Mengetahui cucunya suka marah seperti itu, KH. R. As'ad Syamsul Arifin meminta agar nama Muhammad Imdad dirubah menjadi Ahmad Azaim Ibrahimy. Akhirnya, sekitar usianya yang masih 8 tahun, Ahmad Azaim Ibrahimy resmi menjadi nama dari cucu Kiai Asâad. Keluarga. KH. R. Ahmad Azaim Ibrahimy melepas masa lajangnya dengan menikahi Ning Sari.
As'ad, seorang santri, diutus Kiai Kholil mengantarkan tongkat dan tasbih itu dari Bangkalan ke Tebuireng. Kelak murid ini dikenal sebagai KH As'ad Syamsul Arifin, pendiri pesantren paling berpengaruh di Situbondo, Salafiyah Syafi'iyah. Hikayat tentang tongkat dan tasbih itu dituturkan Kiai As'ad dalam sebuah ceramah yang direkam dalam pita kaset.
Ada sekitar 20-an santri mengikuti pengajian yang diampu oleh Ustadz Asâad Syamsul Arifin, S.H.I. ini. Setelah membaca, Ustadz Asâad (sapaan akrab Ustadz Asâad Syamsul Arifin) memberikan arti perkata yang disertai dengan penjelasan beserta contoh-contoh peristiwa zaman dahulu, dan tak lupa tambahan lelucon yang membuat suasana menjadi renyah.
Jika periode 1970-an Gus Dur banyak berkegiatan di pesantren, pada 1984 ia dipilih secara aklamasi oleh tim ahl hall wa al-`aqdi yang dipimpin oleh KH As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan ini diterima Gus Dur selama tiga kali setelah muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta
K.H. A. Wahab Hasbullah. K. H. Muhammad Hasyim Asy'ari atau yang lebih dikenal dengan nama K.H. Hasyim Asy'ari adalah seorang ulama besar bergelar pahlawan nasional dan merupakan pendiri sekaligus Rais Akbar (pimpinan tertinggi pertama) organisasi Nahdlatul Ulama . Ia memiliki julukan Hadratussyaikh yang berarti mahaguru dan telah hafal Kutub
Asâad Syamsul Arifin adalah seorang ulama terkemuka, tokoh NU (Nahdlatul Ulama) dan pimpinan Pesantren Salafiyah Syafiâiyah, Sukorejo Asembagus Situbondo,
Tokoh Sastrawan Pujangga Lama dan Karyanya. Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya sastra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai
ASâAD SYAMSUL ARIFIN RIWAYAT HIDUP DAN PERJUANGANNYA Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar S.I (S.Pd) Dalam Ilmu Tarbiyah Disusun Oleh: FATKHUR ROKHIM NIM.31501700041 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN TARBIYAH FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2021
"Kyai Asâad Syamsul Arifin Sang Utusan Syaikhona Kholil (Histori dan Keramatnya NU)" Nama Nahdlatul Ulamaâ adalah Nama yang disepakati oleh semus ulamaâ
Bismillahirrahmanirrahim! Biografi KH R. Asâad Syamsul Arifin : Wali Quthb dari Indonesia (Oleh Moch. Habiburrahman Haqiqi, KMNU ITB â18; #DiaryUlilAlbab) Beliau adalah Asâad: Lelaki Madura yang lahir dari rahim Siti Maimunah. Putra pertama dari seorang Raden Ibrahim yang bersahaja. Beliau adalah Asâad: Lelaki yang lahir di Makkah, kemudian di saat kecilnya kembali ke Nusantara, ikut [âŠ]
6vmQ. Asâad Syamsul Arifin dianugerahi gelar pahlawan nasional berdasar Keputusan Presiden Kepres RI Nomor 90/TK/Tahun 2016 pada 3 November 2016. Butuh puluhan tahun perjuangan untuk menyematkan pahlawan nasional untuk sang Kiai Asâad. Usulan gelar pahlawan Kiai Asâad dilakukan sejak 2014 lalu. Jauh sebelumnya, usulan pengajuan gelar pahlawan Kiai Asâad pernah dilontarkan KH Ahmad Siddiq, Rais Am PBNU pada hari kedua setelah Kiai Asâad wafat pada 1990. Tahukah siapa sosok KH R Asâad Syamsul Arifin? Putra pendiri Ponpes Salafiyah Syafiâiyah, Sukorejo, Situbondo ini merupakan cicit dari pendiri Pondok Pesantren Kembang Kuning yang berlokasi di Desa Lancar, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Madura, Jatim. Kiai Mahalli Nung Tenggi merupakan kakek buyut Kiai Asâad yang mendirikan Ponpes Kembang Kuning di Tahun, 1619 M. Kakek Kiai Asâad adalah Kiai Ruham. Neneknya bernama Nyai Nur Sari Khotijah. Sedang ayahnya adalah Ibrahim yang populer dengan nama KH R Syamsul Arifin, pendiri Ponpes Salafiyah Syafiâiyah, Sukorejo, Situbondo. Kiai Asâad lahir di perkampungan Syiâib Ali, dekat Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, pada 1897. Beliau wafat di usia ke-93 pada 4 Agustus 1990 di Situbondo, Jawa Timur. Jabatan terakhir di PBNU adalah Dewan Penasihat Musytasar Pengurus Besar NU. Kiai Asâad tercatat sebagai keturunan bangsawan Sumenep. Ibu Kiai Asâad Nyai Nur Sari adalah keturunan Bindara Saud, putra Kiai Abdullah, Batuampar, Guluk-Guluk, Sumenep. Bindara Saud menjadi Raja Sumenep yang ke 29 setelah menikah dengan putri Raja Sumenep yang bernama Raden Ayu Tirtonegoro. Dari perkawinan itu, Bindara Saud mendapat gelar Tumenggung Tirtonegoro. Bindara Saud memimpin Sumenep sejak tahun 1750 â 1762 M. Ibu Kiai Asâad bernama Maimunah binti KH Muhammad Yasin, keluarga dekat Kiai Kholil, Bangkalan. Pada tahun 1890 M hari dan bulan beserta tanggalnya tidak ditemukan, KH R Syamsul Arifin menikah dengan Maimunah di Makkah. Dari perkawinan tersebut, lahir dua anak laki-laki. Kiai Asâad dan Kiai Abdurrohman. Ketika Kiai Asâad berumur 6 Tahun, secara mengejutkan Kiai Syamsul mengajak istri dan Kiai Asâad untuk pulang ke kampung halaman di Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan. Sedangkan, Kiai Abdurrahman-adik Kiai Asâad- yang kala itu, masih berumur 4 tahun- dititipkan kepada Nyai Salkah, saudara sepupu Nyai Maimunah, yang mukim di Makkah. Kiai Syamsul terbilang lama mengembara. Sejak usia 12 tahun, Kiai Syamsul sudah mengembara dari pesantren ke pesantren. Pondok pesantren kali pertama dituju adalah Ponpes Sidogiri, Pasuruan. Dipondok pesantren Sidogiri inilah Kiai Syamsul menimpa ilmu hingga mengabdi sebagai ustadz. Sekian tahun di Sidogiri, Kiai Syamsul pindah ke Ponpes Langitan, Tuban. Setelah itu di Pesantren Bangkalan dibawah asuhan langsung Syechona Kholil. Kemudian mondok ke Mekkah bersama putra mahkota Pondok Sidogiri, Kiai Nawawi. Tidak ada keterangan rinci tentang keberangkatan ke Makkah. Kecuali penegasan bahwa Kiai Syamsul mukim di Mekkah selama 40 tahun. Di Makkah, Kiai Syamsul bertemu Nyai Maimunah binti Kia Haji Muhammad Yasin, perempuan asal Bangkalan. Pertemuan disaat musim haji itu, tahun 1890 M, Kiai Syamsul menikah dengan Nyai Maimunah di Makkah. Di kembang kuning, Kiai Syamsul ikut membantu Kiai Ruham ngajar di Pondok Kembang Kuning. Beberapa tahun berikutnya, Nyai Maimunah wafat. Ibu Kiai Asâad ini, dimakamkan di belakang Masjid Jamiâ Tallang, sekitar 300M sebelah timur Pondok Kembang Kuning. Kiai Syamsul kemudian menikah kembali dengan Nyai Siti Saidah, janda dari Kiai Syarkowiâ pendiri Pondok Pesantren, Guluk-Guluk, Sumenep. Sekitar lima tahun di Kembang Kuning, Kiai Syamsul teringat pesan gurunya saat di Makkah. Salah satu pesan gurunya adalah agar ikut mendirikan pondok pesantren untuk mengembangk an Islam. Kiai Syamsul meminta restu kepada ayahandanya kiai Ruham untuk merantau ke pulau Jawa. Permohonan Kiai Syamsul dikabulkan. Bersama sang isteri, Nyai Siti Saidah menyebarangi laut menuju Pulau Jawa melalui pelabuhan Talang Siring, Pamekasan. Perahu yang membawa Kiai Syamsul dan keluarga akhirnya sandar di Pelabuhan, Panarukan, Situbondo . Dari Pelabuhan Panarukan, Kiai Syamsul mengembara ke arah timur hingga menetap di sebuah pesantren di Desa Sambi Rampak, Situbondo. Di pesantren asuhan Kiai Sambi ini, Kiai Syamsul bermukim agak lama sambil mengajar agama. Di tempat itu, Kiai Syamsul bertemu dengan Habib Asadullah. Kiai Syamsul dinasihati Habib Asadullah agar kembali lagi ke Makkah. Nasihat habib dituruti. Beberapa tahun di Makkah, Kiai Syamsul kembali pulang ke Kembang Kuning, Pamekasan. Beberapa waktu di kembang kuning, Kiai Syamsul kembali menyebrang ke Situbondo bersama Nyai Saidah dan Kiai Asâad. Tiba di Situbondo, Kiai Syamsul sowan ke pengasuh Ponpes Sambi Rampak. Kiai Syamsul juga sowan ke Kiai Nahrawi. Di rumah Kiai Nahrawi, Kiai Syamsul kembali bertemu dengan Habib Asadullah. Dari pertemuan itu, Kiai Syamsul diarahkan lokasi Suko Beloso, belakangan dikenal dengan Sukorejo untuk berdakwah dalam menegakkan agama Islam. Di tempat itu, Kiai Syamsul harus membabat hutan sebelum mendirikan gubuk dan mushalla. Tanah Sukorejo, Asembagus saat itu masih berupa hutan belantara yang terkenal anker dan dihuni oleh banyak binatang buas serta makhluk halus. Dari tanah Sukorejo, Asembagus, Situbondo, nama KH R Asâad Syamsul Arifin berkibar seantero nusantara dan dunia.
- As'ad Syamsul Arifin adalah seorang ulama besar sekaligus tokoh dari organisasi Islam Nahdlatul Ulama NU. Jabatan terakhir yang ia emban dalam NU adalah sebagai Dewan Penasihat Pengurus Besar NU. Pada 1920, As'ad Syamsul Arifin mendongkrak semangat perjuangan dan dakwah Islam melalui Barisan Pelopor adalah wadah dalam membina mantan bandit di Pesantren Sukorejo untuk dakwah dan perjuangan. Oleh karena itu, Arifin juga disebut sebagai pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah di Sukorejo. Baca juga Tokoh-Tokoh Revolusi RusiaAwal Hidup As'ad Syamsul Arifin lahir di Mekkah, Saudi Arabia, tahun 1897. Ia merupakan putra dari KH Syamsul Arifin dan Siti Maimunah. Ketika berusia enam tahun, Arifin dibawa oleh orang tuanya kembali ke Pamekasan, Jawa Timur. Di sana mereka tinggal di Pondok Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan, Madura. Setelah lima tahun menetap, sang ayah mengajak As'ad Syamsul Arifin pindah ke Asembagus, Situbondo. Kemudian As'ad Syamsul Arifin pindah ke Pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam.
Pada 3 November 2016, berdasarkan Kepres Nomor 90, Bangsa Indonesia memiliki seorang Pahlawan Nasional yakni KHR Asâad Syamsul Arifin. Sosok Kyai Asâad dikenal dengan perjuangannya dalam melawan penjajah. Tidak segan, Kiai Asâad mengeluarkan biaya besar dalam mengkonsolidasi pasukan Hizbullah-Sabilillah disaat menumpas penjajah sumber Silsilah KHR Asâad Syamsul Arifin Kyai Asâad adalah putra pertama dari KH Syamsul Arifin Raden Ibrahim yang menikah dengan Siti Maimunah. Kiai Asâad lahir pada tahun 1897 di perkampungan Syiâib Ali Makkah dekat dengan Masjidil Haram. Garis kerurunannya berasal dari Sunan Kudus, Sunan Ampel dan Sunan Giri. Berikut jalur silsilah beliau sumber Bani Abdullah Zakaria Sejak tahun 1938, Kyai Asâad mulai fokus di dunia pendidikan. Lembaga pendidikan itupun dikembangkan dengan SD, SMP, SMA, Madrasah Qurâan dan Maâhad Aly dengan nama Al-Ibrahimy. Peran Kiai Asâad dalam pendirian organisasi Nahdlatul Ulama NU sangat nampak sekali. Ia merupakan santri kesayangan KH Kholil Bangkalan, yang diutus untuk menemui KH Hasyim Asyâari memberi âtanda restuâ pendirian NU. Di usianya ke 93, Kiai Asâad. KH Asâad Syamsul Arifin wafat pada 4 Agustus 1990 dan dimakamkan di komplek Ponpes Salafiyyah Syafiâiyyah. WaLlahu aâlamu bishshawab Artikel Menarik 1. Misteri Pemeluk Islam Pertama di Nusantara 2. Misteri 9 Sahabat Rasulullah, yang berdakwah di NUSANTARA? 3. Silsilah Kekerabatan Kyai Haji Ahmad Dahlan Muhammadiyah dengan Keluarga Pesantren Gontor Ponorogo 4. [Misteri] Tjokroaminoto Guru Presiden Soekarno, yang pernah dikunjungi Rasulullah?